Blogger Template by Blogcrowds.

“Suatu saat diriku harus mengarungi cakrawala tak berbatas dengan bahtera megah para malaikat,
Aku hanya tak ingin hatimu tetap mendekam dalam peti bahtera ini dan membuat tubuhmu disana kehilangan kompas”
06/07/2015

“Mereka mulai mengeluh lelah dan berkata “sabar....”.
Aku hanya katakan pada diriku
“Tuhan tidak bermai dadu”
Tuhan tidak akan pernah mengingkari janjinya, aku percaya itu”
26/10/2015

“Suatu saat kau akan bertemu seseorang yang bisa membangun rumah di dalam hatimu,
Rumah dimana kau bisa masuk dan tidak membuatmu basah kedinginan di luar sana.
Yang membuatmu bisa menangis jika kau tak bisa menangis”
01/01/2016

“Saya sudah berjanji pada diri saya,
Saya tidak akan mengatakan
“mengapa harus saya” saat saya sudah penat
Karena seorang pemenang sekalipun tak akan bertanya
“mengapa harus saya” saat ia mendapatkan kemenangannya”
19/01/2016

Terkadang saat sampai di suatu waktu kau akan mengingat sesuatu di masa lalu,
Kau merindukannya.
Tapi kau harus terus berjalan ke masa depan,
Kau tak akan benar-benar tahu apa yang akan kau lewati,
Apa yang kau dapat,
Kemana kau pergi,
Dengan siapa kau menikah
Tak apa jika kau tak mendapatkan yang kau inginkan,
Tak bisa meraih cita-citamu,
Tak bisa bersama dengan cinta pertamamu.
Karena kenyataannya kau tak akan mengatakan
Seseorang sukses jika tak ada orang yang gagal.
Tidak setiap orang yang berusaha menjadi pemenang,
Tapi setiap orang dikatakan berbeda dilihat dari bagaimana dia bangun dari jatuhnya
Dan menerima apa yang ada

19/02/2016

        Saat aku mulai melalui masa-masa yang sangat sulit. Aku merasa diri ini sudah mulai menemukan cahaya, kemana jalan menuju langit yang sebenarnya. Sebuah titik dimana kami manusia melampaui mimpinya sendiri dengan mata terbuka. Tetapi ternyata..... sepertinya semua itu hanya ilusi. Seperti umpan pemancing untuk mencari ikannya. Saat Tuhan membalikkan hati kita dan kita terbangun olehnya, Dirinya akan memancing kita lebih jauh, lebih dalam, melayang kesuatu tempat yang lebih tinggi. Menempa setiap hati dan tubuh untuk terus menemukan titik tertinggi.
 
        Awalnya aku bingung, “apa ini?”. Mulai menyadari ternyata selama ini aku masih bermimpi dengan mata tertutup. Menyadari ternyata diri ini masih berjalan pada dimensi ruang dan waktu yang sama. Sama sekali tidak ada yang berubah hanya nyaris berada di garis impian. Tetapi terus saja hanya hampir.... hampir.... hampir.... dan hampir. Sama sekali belum melewati batas. Tak seperti energi yang kekal, ia selalu berubah bentuk. Tetapi ternyata diri ini sama sekali tak bepindah dimensi dan masih menempati potongan-potongan tangga mimpi lalu yang sudah disamarkan dengan mimpi baru yang ternyata belum terlihat jelas dan dapat membangun tangga-tangga baru  menuju titik tertinggi. Terdakang terasa masih kabur bahkan hilang karena perasaan lelah, kehabisan tenaga karena berjalan pada dimensi satu.

        Tuhan seperti membangunkanku lagi... lagi... dan lagi... dari mimpi di dalam mimpi yang didalamnya aku bermimpi sedang bermimpi. Seperti mulai menjadi sesat kembali setelah dibenarkan jalannya. Seperti kembali keluar jalur dari jejak yang seharusnya diikuti. Tetapi seperti dibuktikan, Tuhan tidak pernah benar-benar melepaskan genggamannya terkadap kami. Firasat-firasat yang mulai menyadarkan, “ah... tenyata... kenapa bisa begini?”. Semua orang tahu jika manusia hanya berpegang pada tiang-tiang yang fana, kami semua akan mudah tersesat dalam gelap atau akan sedikit terseret jika arus datang. Tetapi jika kami berpegang pada sesuatu yang lebih tinggi, akan ada jam-jam yang terus berdentang dan tali-tali yang menyeret mata, telinga, tangan, dan kakimu dengan paksa untuk kembali tersadar. Bahwa semestinya jalan-jalan yang sudah diterangi, jika kau terus menapaki jejak yang sama suatu saat makhluk akan merasakan kantuk dan mulai keluar dari jalur. Tetapi jika ada yang menyeretmu kembali dengan paksa dan membuatmu terbangun, makhluk itu akan kembali menapaki jalan-jalan yang benar.

        Ada hal yang perlu ditanam dalam pikiran setiap makhluk sebelum mulai melangkah lebih jauh. Berjalanlah untuk mencapai mimpimu yang diluar nalar dengan mata terbuka, karena mimpi hanya bisa terwujud jika kau membangunkan tubuhmu dengan paksa.

      Setiap orang memiliki titik balik hidup mereka, setiap orang memiliki waktu yang mana menjadi titik awal lari maraton dari hidup mereka sendiri. Menjadi titik perubahan untuk kehidupan setiap orang. Sama aku juga dan kau juga….

      Orang mengatakan, aku berubah banyak. Yah…. Sedikit banyak kuakui aku berubah. Dulu aku menumpahkan segala emosiku begitu saja, marah, menangis. Tapi sekarang kau hanya akan menemukanku berlari di sepanjang jalan atau memukul bola-bola tenis. Dulu aku mengatakan apapu yang aku pikirkan, sekarang sudah terlalu banyak yang ada di kepalaku bahkan aku tak terlalu bisa lagi mengatakan banyak hal untuk mengungkapkan sesuatu. Dulu aku nenuntut sesuatu begitu saja, sekarang kau akan temukan aku tersenyum. Sungguh, dunia tidak semudah yang kita bayangkan di dalam kepala kita yang sempit saat umur kita belum menginjak 17 tahun.

      Sama seperti aku mengenalmu dan seperti kau mengenalku. Meskipun kau tak mengungkapkan apapun, sudah terlalu mudah untukku membaca segala sesuatu yang kau lakukan. Yang terlihat ataupun tak terlihat. Dulu kau tak suka mengatakan apapun tentang dirimu, sama sekarang juga sama. Dulu kau suka mendengarkan setiap celotehan teman-temanmu, sama sekarang kau sama. Dulu aku tak tahu apa yang kau lakukan saat kau lelah dengan segala sesuatu, sekarang aku tahu. Dan aku hanya bisa berkata, “kasihan….”. aku sudah terlalu terbiasa membaca segala sesuatu, yang sangat kecil sekalipun dari dirimu bahkan mungkin sesuatu itu tidak masuk kedalam kepalamu dan orang bilang hal-hal kecil itu terlalu aneh untuk dipikirkan.

      Aku tahu, sejauh aku mengenalmu. Aku tidak berbicara, tapi aku mengamati. Bahkan mungkin mengamati sesuatu yang bisa kau katakan, kau tidak merasakannya dihatimu. Kau akan mengerti, sungguh… jika kau melihat dirimu sendiri dari duniaku.

       Tidak pernah ada orang yang akan menuntutmu menumpahkan segala emosinya, akupun tidak. Tidak pernah dan tidak pernah aku berniat. Tapi paling tidak jangan kau menjadi orang yang bahkan buta dengan apa yang kau rasakan sendiri seperti aku dulu. Terjebak dalam dunia yang tidak kausadari.

       Aku tidak banyak tahu detail ceritamu. Yah benar….. Aku bahkan juga bukan orang yang akan selalu kau cari saat kau merasakan kesulitan ataupun membutuhkan bantuan. Tapi setidaknya aku mengamati segala sesuatunya. Aku tidak perlu berbicara untuk tahu darimu.

      Tidak ada yang salah saat kau lelah atau apapun itu. Tidak ada yang salah saat kau menumpahkan segala peluhmu dan mengatakan, “aku lelah…”. Tidak akan ada yang menyalahkanmu. Tapi kau hanyak perlu keluar dari zona hitam di kepalamu yang tidak kau sadari itu. Datanglah kepada Tuhan, katakan padanya, kau tak harus mencari seseorang jika kau malu untuk menganis di hadapannya. Tak ada yang salah juga jika kau berlari, karena aku pernah melakukannya juga. Tapi baru sekarang aku menyadarinya ternyata jika aku berlari sekalipun, aku tidak pernah menyadari apa yang salah dari diriku, apa yang aku rasakan, rasa sakit dan lelah apa yang berdiam tanpa gejolak di dalam kepalaku.

      Terlalu banyak yang ada di kepalaku bahkan aku tidak bisa menulisnya. Aku hanya mengatakan satu hal. Semua itu tak  ada yang salah, sungguh….



Entah hanya aku atau siapapun, terkadang saat mendengarkan lagu tentang cinta hati ini seperti ada lubang. Yah .... lubang besar yang menganga lebar. Bukan karena kesakit hatian atau kepedihan yang terlalu mendalam. Tapi entah mengapa sejak saat itu, sejak Tuhan seperti meraih tanganku. Ketertarikan seperti sirna, seperti ada lubang besar yang menganga tapi aku tak merasa sakit sedikitpun, tidak sedikitpun merasa ini menangis lagi.

Aku dulu sama seperti remaja sekarang yang saat ini seperti tergila-gila dengan kata "cinta". Seperti racun yang sudah tidak lagi masuk ke hati mereka tapi sudah menembus selaput otak yang bahkan terkadang membuat mereka tak memikirkan seorang lain. Tapi ada saatnya kau akan menemukan seorang yang menjadikan dirimu mengatakan dia adalah "cinta pertama". Seperti cerita di setiap drama drama korea melow,


"Kau tak akan pernah bisa melupakan cinta pertamamu, meskipun kisahnya akan berakhir seperti kertas yang dibakar api. Yang membuatmu tak akan bisa melupakannya adalah rasa yang kau rasakan saat itu, untuk pertama kalinya. Selalu segala sesuatu yang terjadi untuk pertama kalinya akan melekat kuat dalam ingatan"


Ini bukan "cinta" yang selama ini kalian kenal. "Cinta" disini memiliki definisi lain yang lebih dalam sesuatu yang terasa berbeda di dalam hatimu. Kau tak akan pernah merasa keberatan menyesuaikan dirimu untuknya, membencinya dan mengaguminya. Hatimu tak akan merasa berat untuk selalu menuntunnya. Kau akan mengenali "cinta" saat kau merasakannya, seperti ikan salmon yang selalu tahu kemana mereka harus kembali untuk bertelur.
Saat itu hanya aku yang menunggunya, untuk lebih dari 3 tahun. Tak seorangpun tahu, tapi entah mengapa saat aku merasakan sesuatu yang begitu sakit, dilanda keputus asaan. Tuhan terasa semakin dekat dan semakin dekat. Saat aku mendekatinya terasa semakin dekat dan dekat. Tuhan seperti menggengam tanganku erat-erat dan mendengarkan apapun yang kukatakan. Aku pernah membaca,


"Jika kau mendekatinya dia akan menjauh, Tapi jika kau dekatkan hatimu pada Tuhan, dengan sendirinya dia akan datang padamu, Tuhan Maha membolak balikkan hati"


Kau tak akan pernah bisa membayangkan rasa ketenangan seperti apa yang Ia tawarkan padaku. Semakin aku bingung, hilang arah, semakin Tuhan menarikku pada Nya. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya mengapa dan bagaimana bisa aku merasakan rasa yang begitu nikmat, rasa yang ditawarkan oleh Nya. Kenikmatan yang sedemikian rupa membuatku tanpa sadar kehilangan sesuatu. Lubang di hati yang menganga sangat besat tapi seperti sudah terpenuhi oleh jaringan transparan yang tak akan pernah bisa kau lihat tapi kau bisa merasakannya mengisi bagian berlubang itu. Setiap orang  yang melihat seperti merasa aneh dengan lubang besar itu, tapi aku merasakan "kepenuhan" dari lubang yang tak bisa dikatakan seberapa hancurnya. Barulah aku benar-benar mengerti setelah sekian lama tentang arti ungkapan


“Jika kau berjalan mendekati Tuhan, Ia akan berlari kepadamu”


Sejak saat itu tanpa kusadari aku seperti tak mau meninggalkan Nya. Hidupku untuk Nya, hatiku untuk Nya, mata dan setiap bagian tubuhku milik Nya, dan hanya kepada Nya aku kembali. Seperti singa buas yang merindukan cinta kasih induknya. Setiap luka yang timbul dari kehidupan sebelumnya tetap ada, tapi seperti terisi dengan jaringan transparan yang memuhi tubuhku. Membuatku tetap mengingat memori lama tanpa pernah merasa sakit lagi. Untuk menjadi sebuah pelajaran hidup yang berharga. Setiap orang tidak otomatis menjadi orang baik, sama seperti seorang ayah. Seorang ayah tidak selalu langsung menjadi ayah yang baik saat anaknya lahir karena ini pertama kalinya, ia hanya bias terus berjalan sambil terus belajar dari kehidupan bukan menjadikan kesalahan sebagai memori buruk dan penyesalan.


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Aku mengatakan kepada ibuku, "aku takut jika aku menikah aku tak akan bisa melanjutkan sekolahku". Ibu tahu bagaimana aku mencintai. Tapi ibu meyakinkanku aku akan bisa apapun yang terjadi. Aku takut akan bertemu orang yang bisa membuatku meninggalkan segala sesuatu yang kucintai dan bersedia hidup untuknya, meskipun aku tahu Tuhan akan mengirimkan sesuatu yang seperti itu untuk setiap umatnya. Membaca banyak buku, berpetualan, berjalan di sepanjang pantai sendirian, merasakan nikmatnya tidur di sebuah meja dengan buku sebagai teman berjuang yang begitu setia. Aku takut dia akan membuatku bertekuk lutut seketika dan membuatku merasakan "cinta" yang membuatku merasa tak keberatan tapi disatu sisi aku seperti tak pernah berharap pada Tuhan membutakan mataku sepenuhnya karena "cinta" itu. Meskipun aku tak keberatan nantinya menjadi ibu dari anak-anaknya tapi untuk membayangkannya aku seperti ketakutan, merasa sudah terpuaskan dengan cinta Tuhan yang terlalu besar dan meruah untuk umat Nya.

Meskipun begitu apapun yang terjadi aku akan tetap menunggu untuk Tuhan mengizinkanku menemui seseorang seperti itu. Yang menjadi masa lalu biarlah berlalu, karena setiap orang harus terus bertarung untuk menjafi tetap hidup. Meskipun terkadang aku tak ingin, tapi atas nama Tuhan aku akan tetap bersamanya sepanjang hayatku, berusaha menjadi umat yang baik dan kulakukan apapun yang kubisa untuk menjadikan diriku pantas menjadi seperti bidadari yang diciptakan untuk orang-orang beriman oleh Nya di surga. Siapapun orang yang akan mengganti nama belakangku nanti, hanya untuk Tuhan. Aku akan tetap berada di jalannya. Semoga…

Sejak kecil kita pasti dijejali dengan dengan kata-kata . . .

“ Jika kau tak ingin dicubit, jangan mencoba untuk mencubit orang lain. Jadilah orang yang baik karena orang yang baik akan menang, seperti Cinderrela, kebaikan akan menang pada akhirnya. Tuhan selalu bersama dengan orang baik, Tuhan tidak meninggalkan mereka, Tuhan memegang tangan mereka. You’ll never walk alone “

Tetapi ternyata pada kenyataannya kita sekarang hidup di dunia yang sekarang tidak sebaik dan seindah di zaman Nabi yang menjadikan cerita Cinderrela menjadi mungkin. Meskipun tidak bisa dikatakan jika orang baik sudah sepenuhnya lenyap dari bumi. Orang baik, orang jujur, dan orang yang peduli masih banyak di dunia ini. Tapi, pada kenyataannya orang tuli dan buta lah yang menguasai kita. Mereka hanya melihat sesuatu degan pertanyaan, “Seberapa banyak yang bisa di hasilkan dari ini?”. Miris, tentu semua orang tahu dan sadar tapi mereka tidak bisa melakukan banyak hal karena dunia sudah menjelang kiamat.

Pada akhirnya uang yang menyelamatkan segala. Sebenarnya itu juga bukan salah Tuhan karena semua orang tahu, Tuhan itu maha pemurah dia memberi rezeki dan dunia kepada suapapun tak pandang apapun, orang yang tak pernah percaya apa itu Tuhan pun ternyata dianugrahi kecerdasan yang bisa mengalahkan orang yang mengenal Tuhan sejak dia lahir dan bertaubat di jalan-Nya.

Tentu saja setiap tulisan muncul dari sebuah pengalaman. Entah pahit, manis atau asam, semuanya bisa mengajari kita sesuatu.

Orang baik selalu menang. Tapi ternyata saya belum menjadi orang baik. Tuhan selalu bersama orang baik. Tapi ternyata meskipun saya belum menjadi orang baik. Tuhan selalu bersama dalam hati saya. Dia menuntun saya dengan cara-Nya sendiri, menyadarkan saya akan sesuatu dan yang kecil pun tak pernah luput juga. Sayapun tak mencubit seseorang. Saya ingin menjadi seorang dokter, tapi saya tidak menjadikan diri saya seorang dokter dengan memesannya kepada seseorang atau meminta sebuah kursi pada seseorang. Atau mungkin akan lebih mudah jika membayar untu sebuah kursi dan name tag di sebuah jas putih. Dan sekarang saya tidak menjadi seorang dokter. Saya hanya “membayar” Tuhan dengan hanya belajar, belajar, dan belajar.

Apa dengan tidak mebayar untuk mendapatkan sebuah kursi saya bisa dikatakan sebagai orang baik? Ternyata tidak. Karena tenyata saya baru menyadarinya sekarang ternyata impian saya masih kurang tinggi. Semakin saya bermimpi tinggi semakin dalam saya jatuh semakin banyak saya belajar. Saya baru bisa mengerti Tuhan, padahal kenyataannya Tuhan bahkan lebih dekat dari pada pembuluh darahmu.

Dan apa dengan saya berusaha mengerti Tuhan, diri-Nya memberikan yang saya inginkan? Bisa kujawab dengan lantang bahwa Tuhan tidak memberi apa yang saya inginkan. Kenapa? Karena Tuhan memberi saya apa yang saya butuhkan.

Setiap orang yang ingin menjadi dokter dan tidak hidup di zaman Nabi pasti merasakan hal yang sama (Kecuali untuk orang yang pintar, karena kenyataannya saya tidak pernah mendapat juara di kelas apapun itu, saya bukan murid yang hyperactive untuk selalu melontarkan pertanyaan pada guru atau dosen untuk mengetahui sesuatu yang sudah dijelaskan dengan jelas sebelumnya, atau hanya untuk dilihat bahwa anda pintar dan sering bertanya, atau bisa jadi hanyak untuk mendapatkan nilai, saya hanya belajar keras karena saya sadar karena saya bukan keturunan Israel atau memiliki darah China yang sangat tekun, dan saya bertanya seperlunya apa yang saya tidak megerti karena kita bisa mempelajari sesuatu dari banyak buku). Kau bisa menjadi dokter dengan hanya 3 jalan. Pertama kau kaya, kau pintar, atau kau beruntung. Dan saat saya berusaha keras dan saya tidak mendapatkannya. Apa yang saya lakukan? Setiap orang pasti melewati 5 tahap kesedihan (The Five Stages of Grief) msampai sebuah pengakuan seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Elisabeth Kübler-Ross. Tahap pertama, apa saya tidak terims? Ya tentu saya tidak bisa menerimanya kenapa saya tidak kaya, tidak cerdas dan tidak beruntung. Orang lain bisa mendapatkannya karena dia punya uang yang bisa membantunya. Orang lain memiliki kecerdasan dan bisa membawanya, meskipun ini tidak hanya terjadi pada saya. Tahap kedua, apa saya marah? Yah tentu karena saya terus berbicara pada diri saya sendiri bahwa saya seorang dokter dan saya merasa sendirian. Tahap ketiga, apa saya masih tetap berharap? Yah, saya berharap warna merah dan tulisan “maaf” itu salah, terus memohon-mohon aka nada sebuah keajaiban besar. Tahap keempat dan yang terpanjang, apa saya depresi? Sudah sangat tentu, sangat depresi dan saya mulai kembali ke kenyataan saya sekarang bahwa saya tidak mendapatkannya. Dan tahap terakhir apa yang saya akui? Ternyata sekarang saya mengerti, Tuhan memberikan sesuatu  yang lain agar suatu saat saya bisa menemukan yang lain. Belajar hidup dengan keadaan yang sekarang.

Dunia yang sebenarnya lebih kejam dari pada apa yang dibayangkan. Karena setiap kesulitan menjadi sebuah kebaikan bagi orang yang mengerti. Dunia kejam karena siapapun yang memiliki uang bisa mendapatkan lebih dari apa yang biasanya orang lain dapatkan. Siapapun yang duduk di singgasana dan berdasi bisa membantu mereka untuk mendapat apa yang mereka mau. Dan apa kita harus berusaha terus untuk mencapai posisi dan cita-cita yang kita inginkan dan mendapatkan uang banyak sehingga setiap orang nantinya akan bertepuk tangan untuk kita? Kukatakan dengan tegas TIDAK.

Memang benar kejar cita-citamu sampai berdarah darah dan kadang sampai kau berasa hanya ingin mati saja, tapi meskipun kau ingin mati, tetaplah hidup teruslah berjalan dan berbahagialah apapun yang terjadi. Sukses bukan hanya menjadi seorang pahlawan yang melintas dijalan dengan diiringin tepuk tangan banyak orang. Tapi menjadi orang yang bertepuk tangan di belakang layar kata “terima kasih” dari seorang pahlawan juga merupakan kesuksesan. Kau tidak harus terkenal. Kau hanya perlu hidup dihati banyak orang dan membuat orang mengenang senyummu.

Uang memang akan membantu kita untuk mendapatkan hidup di dunia. Tapi setiap orang perlu menginat sesuatu, bahwa orang baik pasti menang meskipun ini bukan zaman Nabi. Karena meskipun mereka tidak menang, mereka akan menang di hati mereka sendiri. Mereka akan menemukan uang bukan ukuran seberapa bisa kau hidup di dunia yang kejam ini (meskipun kenyataanya uang adalah senjata ampuh), tapi kau akan menemukah bahwa ternyata berusaha dan terus berusaha menjadi orang baik meskipun hal itu tidak akan bisa menghindarkan kita dari cubitan orang lain tapi setidaknya Tuhan bersamamu. Karena jika kau meminta kepada orang berdasi dia tak akan mendengarkan, tapi jika kau meminta pada yang menguasai seisi alam raya Dia akan selalu mendengarkanmu. Dia lebih besar kuasanya, jadilah yang Dia mau dan hiduplah.


Carilah sendiri, kau akan lebih tahu jawabannya. . . . 

Waktu-waktu mendekati kelulusan seperti ini terasa sangat luar biasa bagi kita semua, siswa kelas XII di jenjang akhir sekolah tinggi. Dititik ini kita semua pasti berpikir “apa selanjutnya? Aku  jadi apa?”. Yah memang bingung, aku merasakannya juga. Disaat seperti itu kita benar-benar dituntut, mungkin bukan dituntut saja tapi diburu waktu juga, untuk berpikir keras apa kita selanjutnya. Tapi tentu saja guru dan orangtua selalu mengingatkan, “yang kalian pilih harus semuai minat dan kemampuan, jangan memilih karena orangtua, kan bukan orangtua yang sekolah”. Ada juga temanku dihari pendaftaran SNMPTN dimulai dia masih berkata, “jurusan apa ya? Bingung”. Ada juga teman yang berkata, “Kedokteran aku, disuruh mamaku”, atau “Aku STAN, biar gampang kerjanya nggak ribet”. Banyak jawaban, banyak cerita. Tapi ada yang sudah menjawab dengan mantap, “aku bioteknologi UB”. Sepertiku, dengan mantap aku menjawab, “kedokteran”. Mungkin itu mimpi yang biasa saja untuk semua orang, mengapa? Karena semua orang berpikir, dokter itu keren, dokter itu gajinya banyak, dokter itu sekolahnya banyak, dokter itu sekolahnya mahal, dokter itu hanya orang kaya yang bisa sekolah, makanya banyak yang mau.

Kenyataannya? Mungkin memang benar, dokter sekolahnya lama, dokter sekolahnya mahal, dokter gajinya banyak. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Siapa yang tidak tahu? Tapi untuk pernyataan bahwa dokter itu hanya orang kaya yang bisa sekolah, saya rasa tidak. Banyak orang tidak terlalu mampu di luar sana yang bisa jika anda tahu. Dan hampir seluruh orang akan mengambil jurusan ini karena mereka berpikir gajinya yang besar dan prospek kerjanya yang menjanjikan. Terutama untuk anak yang orangtuanya sudah terjun dibidang kesehatan, seperti aku pribadi. Karena memang, dalam kenyataannya orang-orang mencari jurusan kuliah karena prospek kerja yang dimiliki, hal itu sudah tidak terelakkan. Seperti halnya jika ada seorang anak yang berkata, “Aku mau ambil jurusan astronomi”, pasti banyak yang bertanya, “seperti apa sekolahnya? Mahal tidak? Kerjanya jadi apa? Gajinya kira-kira berapa? Bisa menjamin hidupmu tidak?”. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengelilingi kehidupan kita. Memang tidak bisa dipungkiri di dunia kita membutuhkan uang, Itu pasti. Tapi hal-hal di masyarakat itu membuat saya bertanya. Kenapa orang berpikir seperti itu ? Gaji besar ? Kerja Bagus ?

Dulu saat aku kecil, aku menolak mentah-mentah. Aku benar-benar tidak ingin berkutat di dunia kesehatan. Aku suka musik dan gambar. Aku tidak suka hal seperti itu, sangat tidak suka. Perlahan demi perlahan aku tumbuh. Saat SMP, sekolahku lumayan jauh dari rumah (±3km dari rumah), jadi aku harus naik kendaraan umum (angkot biasa aku menyebutnya) setiap sekolah, selama 3 tahun. Aku mendengar dan menemukan berbagai macam hal baru. Berinteraksi dengan masyarakat, karena kita tahu sendiri kendaraan umum adalah kendaraan semua kalangan. Tapi setelah memasuki SMA, saya mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi, karena jarak yang ditempuh lebih jauh dari sebelumnya (±10km dari rumah), memang kabutapen saya tidak terlalu banyak memiliki sekolah tinggi negeri, karena hal itu persaingan yang terjadi sangatlah ketat. Perbedaan nilai sebesar 0,1 saja sudah sangat sulit. Jadi tidak begitu banyak yang beruntung bisa bersekolah di sekolah negeri. Tapi setelah mengalami kecelakaan hebat saat aku masih duduk dikelas 10, aku harus menjadi pengguna angkutan umum lagi sementara waktu. Aku belajar sangat banyak dari pengalaman menjadi pengguna angkutan umum.

Saat kita di masyarakat, kita akan sering mendengan hal yang sering mereka keluhkan. Kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan, mereka selalu mengeluhkan hal yang sama. Aku hidup di keluarga yang terjun di bidang kesehatan, dan itu membuatku sama sekali tidak mengerti seperti apa sulitnya masyarakat umum menghadapi permasalahan kesehatan. Aku tertegun saat mendengar wanita hampir tua yang berkata, “halah berobah di dokter ini aja, murah. Dari pada kerumah sakit, lama yawes gitu aja”. Ada alasan uang yang mendasari hal tersebut, ada alasan pelayanan kesehatan yang tidak bagus yang mendasari alasan tersebut. Dan aku sering mendengar orang-orang berbicara pengobatan alternatif yang sering diberi embel-embel, “Beberapa kali datang sembuh total, tanpa operasi, harga terjangkau”, padahal diri kita sendiri tidak bernar-benar tau metode apa yang mereka gunakan, obat apa yang mereka gunakan, aman atau tidak. Mereka memikirkan biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka selalu berlari ke pengobatan alternatif yang kita tidak tau seperti apa pengobatannya saat masyarakat sudah kehabisan akal untuk memenuhi biaya perawatan kesehatan medis. Diperparah dengan adanya kasus malpraktek yang kita tahu terjadi di masyarakat, Kesalahan prosedur pengobatan yang menyebabkan kematian, semakin mengikis kepercayaan masyarakat bahwa medis itu aman. Banyak sekali orang-orang yang harus mati sia-sia hanya karena biaya pengobatan yang mengganjal mereka atau sudah putus asanya mereka karena pengobatan alternatif manapun tidak bisa menyembuhkannya. Banyak sekali hal tersebut dan sudah menjadi darah daging di kehidupan masyarakat. Alam indah di daerah Indonesia timur pun menutupi kenyataan pahit, bahwa banyak dari mereka yang tidak mengerti apa itu sehat. Hidup dalam kerkurangan dan daerah yang terisolasi mempersempit kesempatan mereka untuk hidup sehat dan sejahterah. Hal itu membuatku berpikir, inikah? Banyak siswa yang mengejar sebuah pekerjaan dengan gaji besar seperti dokter. Padahal kenyataannya diluar sana banyak sekali masyarakat yang tidak hanya membutuhkan ilmu dan pelayanan mereka, tapi juga hati mereka. Hati yang bisa membantu mereka tenang, hati yang bisa memberi semangat, hati yang bisa membantu meraka sembuh, hati yang bisa membimbing mereka untuk percaya.

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengerti Tuhan, memahami-Nya, bersyukur kepada-Nya. Menyadari bahwa ciptaan-Nya begitu luar biasa. Dia menciptakan setiap jengkal tubuh kita begitu detail dan luar biasa. Membuatnya bekerja dengan sempurna dan bahkan bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Maha besar Tuhan Yang Maha Esa. Membuatku selalu terkagum-kagum, bagaimana bisa seperti ini? Begitu indahnya manusia. Terutama saat mengetahui kisah para ilmuwan yang memeluk islam karena riset mereka sendiri. Salah satu contohnya adalah Profesor William, seorang ilmuwan yang menemukan bahwa tumbuhan itu selalu bertasbih kepada Tuhan dan membuatnya memeluk islam. Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian tim Profesor William tentang suara yang keluar dari tumbuhan tetapi tidak bisa didengar telinga biasa (ultrasonik). Suara itu direkam, gelombang suara tersebut lalu ditranslate menjadi gelombang elektrik optic yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Beliau sudah mengajukan hasil penelitian ini kemanapun, ke ilmuwan Amerika maupun Eropa, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan fenomena tersebut. Sampai akhirnya hasil penelitian ini sampai di tangan para peneliti Britania yang salah satu ilmuannya adalah seorang muslim India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”. Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu. Sang ilmuwan muslim menyampaikan firmanTuhan dalam Al-Quran:


 “…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

Keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William menemui ilmuwan muslim itu untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh Rasulullah yang tidak bisa baca tulis 1.400 tahun lalu sebelum fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada Profesor William. Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan:


“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadat: Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”

Seorang Professor telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin, karena Tuhan yang Maha mengetahui, membuatnya terperangah atas kenyataan ilmiah yang diberikan-Nya sebelum ada satupun orang yang mengetahuinya. Nikmat Tuhan manakah yang tidak membuatmu terpanggil? Fakta ilmiah manakah yang tidak membuatmu tercengang tentang Tuhanmu?

Aku mendengar, membaca dan belajar dari kehidupan. Segala kenyataan yang ada membuat hatiku terpanggil seketika, memperbaiki masyarakat. Memperbaiki pandangan mereka bahwa sebenarnya masih ada kami disini yang bukan hanya mencari gaji untuk makan, tapi kami siap memberikan hati, hati yang tulus untuk melayani. Merubah pandangan siswa-siwa yang berpikir bahwa “menjadi dokter dan mendapat gaji yang besar”, tapi menjadi dokter dengan hati, bukan karena uang dan materi, bukan karena prospek kerja yang menjanjikan, tapi menjadi manusia yang teguh menjadi pelayan masyarakat dan membantu mengulurkan tangan tuhan dengan ilmu yang didapatkan. Tuhan menitipkan ilmu untuk kita bagi bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Membangun dunia lebih baik, menjadikan semua orang sadar bahwa sehat adalah hak setiap orang.

Semoga mimpiku menjadi dokter terwujud dan tidak lupa, aku hidup di dunia karena Tuhan. Amin

Postingan Lama