Saat aku mulai
melalui masa-masa yang sangat sulit. Aku merasa diri ini sudah mulai menemukan
cahaya, kemana jalan menuju langit yang sebenarnya. Sebuah titik dimana kami
manusia melampaui mimpinya sendiri dengan mata terbuka. Tetapi ternyata.....
sepertinya semua itu hanya ilusi. Seperti umpan pemancing untuk mencari
ikannya. Saat Tuhan membalikkan hati kita dan kita terbangun olehnya, Dirinya
akan memancing kita lebih jauh, lebih dalam, melayang kesuatu tempat yang lebih
tinggi. Menempa setiap hati dan tubuh untuk terus menemukan titik tertinggi.
Awalnya aku bingung, “apa ini?”. Mulai menyadari ternyata selama ini aku masih bermimpi
dengan mata tertutup. Menyadari ternyata diri ini masih berjalan pada dimensi
ruang dan waktu yang sama. Sama sekali tidak ada yang berubah hanya nyaris
berada di garis impian. Tetapi terus saja hanya hampir.... hampir....
hampir.... dan hampir. Sama sekali belum melewati batas. Tak seperti energi
yang kekal, ia selalu berubah bentuk. Tetapi ternyata diri ini sama sekali tak
bepindah dimensi dan masih menempati potongan-potongan tangga mimpi lalu yang
sudah disamarkan dengan mimpi baru yang ternyata belum terlihat jelas dan
dapat membangun tangga-tangga baru
menuju titik tertinggi. Terdakang terasa masih kabur bahkan hilang
karena perasaan lelah, kehabisan tenaga karena berjalan pada dimensi
satu.
Tuhan seperti
membangunkanku lagi... lagi... dan lagi... dari mimpi di dalam mimpi yang
didalamnya aku bermimpi sedang bermimpi. Seperti mulai menjadi sesat kembali
setelah dibenarkan jalannya. Seperti kembali keluar jalur dari jejak yang
seharusnya diikuti. Tetapi seperti dibuktikan, Tuhan tidak pernah benar-benar
melepaskan genggamannya terkadap kami. Firasat-firasat yang mulai menyadarkan,
“ah... tenyata... kenapa bisa begini?”. Semua orang tahu jika manusia hanya
berpegang pada tiang-tiang yang fana, kami semua akan mudah tersesat dalam
gelap atau akan sedikit terseret jika arus datang. Tetapi jika kami berpegang
pada sesuatu yang lebih tinggi, akan ada jam-jam yang terus berdentang dan
tali-tali yang menyeret mata, telinga, tangan, dan kakimu dengan paksa untuk kembali tersadar.
Bahwa semestinya jalan-jalan yang sudah diterangi, jika kau terus menapaki
jejak yang sama suatu saat makhluk akan merasakan kantuk dan mulai keluar dari
jalur. Tetapi jika ada yang menyeretmu kembali dengan paksa dan membuatmu
terbangun, makhluk itu akan kembali menapaki jalan-jalan yang benar.
Ada hal yang perlu ditanam dalam pikiran setiap makhluk sebelum mulai melangkah lebih jauh. Berjalanlah untuk mencapai mimpimu yang diluar nalar dengan mata terbuka, karena mimpi hanya bisa terwujud jika kau membangunkan tubuhmu dengan paksa.
Label: kisah hidup, life, story
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
