Blogger Template by Blogcrowds.

Waktu-waktu mendekati kelulusan seperti ini terasa sangat luar biasa bagi kita semua, siswa kelas XII di jenjang akhir sekolah tinggi. Dititik ini kita semua pasti berpikir “apa selanjutnya? Aku  jadi apa?”. Yah memang bingung, aku merasakannya juga. Disaat seperti itu kita benar-benar dituntut, mungkin bukan dituntut saja tapi diburu waktu juga, untuk berpikir keras apa kita selanjutnya. Tapi tentu saja guru dan orangtua selalu mengingatkan, “yang kalian pilih harus semuai minat dan kemampuan, jangan memilih karena orangtua, kan bukan orangtua yang sekolah”. Ada juga temanku dihari pendaftaran SNMPTN dimulai dia masih berkata, “jurusan apa ya? Bingung”. Ada juga teman yang berkata, “Kedokteran aku, disuruh mamaku”, atau “Aku STAN, biar gampang kerjanya nggak ribet”. Banyak jawaban, banyak cerita. Tapi ada yang sudah menjawab dengan mantap, “aku bioteknologi UB”. Sepertiku, dengan mantap aku menjawab, “kedokteran”. Mungkin itu mimpi yang biasa saja untuk semua orang, mengapa? Karena semua orang berpikir, dokter itu keren, dokter itu gajinya banyak, dokter itu sekolahnya banyak, dokter itu sekolahnya mahal, dokter itu hanya orang kaya yang bisa sekolah, makanya banyak yang mau.

Kenyataannya? Mungkin memang benar, dokter sekolahnya lama, dokter sekolahnya mahal, dokter gajinya banyak. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Siapa yang tidak tahu? Tapi untuk pernyataan bahwa dokter itu hanya orang kaya yang bisa sekolah, saya rasa tidak. Banyak orang tidak terlalu mampu di luar sana yang bisa jika anda tahu. Dan hampir seluruh orang akan mengambil jurusan ini karena mereka berpikir gajinya yang besar dan prospek kerjanya yang menjanjikan. Terutama untuk anak yang orangtuanya sudah terjun dibidang kesehatan, seperti aku pribadi. Karena memang, dalam kenyataannya orang-orang mencari jurusan kuliah karena prospek kerja yang dimiliki, hal itu sudah tidak terelakkan. Seperti halnya jika ada seorang anak yang berkata, “Aku mau ambil jurusan astronomi”, pasti banyak yang bertanya, “seperti apa sekolahnya? Mahal tidak? Kerjanya jadi apa? Gajinya kira-kira berapa? Bisa menjamin hidupmu tidak?”. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengelilingi kehidupan kita. Memang tidak bisa dipungkiri di dunia kita membutuhkan uang, Itu pasti. Tapi hal-hal di masyarakat itu membuat saya bertanya. Kenapa orang berpikir seperti itu ? Gaji besar ? Kerja Bagus ?

Dulu saat aku kecil, aku menolak mentah-mentah. Aku benar-benar tidak ingin berkutat di dunia kesehatan. Aku suka musik dan gambar. Aku tidak suka hal seperti itu, sangat tidak suka. Perlahan demi perlahan aku tumbuh. Saat SMP, sekolahku lumayan jauh dari rumah (±3km dari rumah), jadi aku harus naik kendaraan umum (angkot biasa aku menyebutnya) setiap sekolah, selama 3 tahun. Aku mendengar dan menemukan berbagai macam hal baru. Berinteraksi dengan masyarakat, karena kita tahu sendiri kendaraan umum adalah kendaraan semua kalangan. Tapi setelah memasuki SMA, saya mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi, karena jarak yang ditempuh lebih jauh dari sebelumnya (±10km dari rumah), memang kabutapen saya tidak terlalu banyak memiliki sekolah tinggi negeri, karena hal itu persaingan yang terjadi sangatlah ketat. Perbedaan nilai sebesar 0,1 saja sudah sangat sulit. Jadi tidak begitu banyak yang beruntung bisa bersekolah di sekolah negeri. Tapi setelah mengalami kecelakaan hebat saat aku masih duduk dikelas 10, aku harus menjadi pengguna angkutan umum lagi sementara waktu. Aku belajar sangat banyak dari pengalaman menjadi pengguna angkutan umum.

Saat kita di masyarakat, kita akan sering mendengan hal yang sering mereka keluhkan. Kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan, mereka selalu mengeluhkan hal yang sama. Aku hidup di keluarga yang terjun di bidang kesehatan, dan itu membuatku sama sekali tidak mengerti seperti apa sulitnya masyarakat umum menghadapi permasalahan kesehatan. Aku tertegun saat mendengar wanita hampir tua yang berkata, “halah berobah di dokter ini aja, murah. Dari pada kerumah sakit, lama yawes gitu aja”. Ada alasan uang yang mendasari hal tersebut, ada alasan pelayanan kesehatan yang tidak bagus yang mendasari alasan tersebut. Dan aku sering mendengar orang-orang berbicara pengobatan alternatif yang sering diberi embel-embel, “Beberapa kali datang sembuh total, tanpa operasi, harga terjangkau”, padahal diri kita sendiri tidak bernar-benar tau metode apa yang mereka gunakan, obat apa yang mereka gunakan, aman atau tidak. Mereka memikirkan biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka selalu berlari ke pengobatan alternatif yang kita tidak tau seperti apa pengobatannya saat masyarakat sudah kehabisan akal untuk memenuhi biaya perawatan kesehatan medis. Diperparah dengan adanya kasus malpraktek yang kita tahu terjadi di masyarakat, Kesalahan prosedur pengobatan yang menyebabkan kematian, semakin mengikis kepercayaan masyarakat bahwa medis itu aman. Banyak sekali orang-orang yang harus mati sia-sia hanya karena biaya pengobatan yang mengganjal mereka atau sudah putus asanya mereka karena pengobatan alternatif manapun tidak bisa menyembuhkannya. Banyak sekali hal tersebut dan sudah menjadi darah daging di kehidupan masyarakat. Alam indah di daerah Indonesia timur pun menutupi kenyataan pahit, bahwa banyak dari mereka yang tidak mengerti apa itu sehat. Hidup dalam kerkurangan dan daerah yang terisolasi mempersempit kesempatan mereka untuk hidup sehat dan sejahterah. Hal itu membuatku berpikir, inikah? Banyak siswa yang mengejar sebuah pekerjaan dengan gaji besar seperti dokter. Padahal kenyataannya diluar sana banyak sekali masyarakat yang tidak hanya membutuhkan ilmu dan pelayanan mereka, tapi juga hati mereka. Hati yang bisa membantu mereka tenang, hati yang bisa memberi semangat, hati yang bisa membantu meraka sembuh, hati yang bisa membimbing mereka untuk percaya.

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengerti Tuhan, memahami-Nya, bersyukur kepada-Nya. Menyadari bahwa ciptaan-Nya begitu luar biasa. Dia menciptakan setiap jengkal tubuh kita begitu detail dan luar biasa. Membuatnya bekerja dengan sempurna dan bahkan bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Maha besar Tuhan Yang Maha Esa. Membuatku selalu terkagum-kagum, bagaimana bisa seperti ini? Begitu indahnya manusia. Terutama saat mengetahui kisah para ilmuwan yang memeluk islam karena riset mereka sendiri. Salah satu contohnya adalah Profesor William, seorang ilmuwan yang menemukan bahwa tumbuhan itu selalu bertasbih kepada Tuhan dan membuatnya memeluk islam. Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian tim Profesor William tentang suara yang keluar dari tumbuhan tetapi tidak bisa didengar telinga biasa (ultrasonik). Suara itu direkam, gelombang suara tersebut lalu ditranslate menjadi gelombang elektrik optic yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Beliau sudah mengajukan hasil penelitian ini kemanapun, ke ilmuwan Amerika maupun Eropa, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan fenomena tersebut. Sampai akhirnya hasil penelitian ini sampai di tangan para peneliti Britania yang salah satu ilmuannya adalah seorang muslim India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”. Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu. Sang ilmuwan muslim menyampaikan firmanTuhan dalam Al-Quran:


 “…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

Keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William menemui ilmuwan muslim itu untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh Rasulullah yang tidak bisa baca tulis 1.400 tahun lalu sebelum fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada Profesor William. Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan:


“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadat: Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”

Seorang Professor telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin, karena Tuhan yang Maha mengetahui, membuatnya terperangah atas kenyataan ilmiah yang diberikan-Nya sebelum ada satupun orang yang mengetahuinya. Nikmat Tuhan manakah yang tidak membuatmu terpanggil? Fakta ilmiah manakah yang tidak membuatmu tercengang tentang Tuhanmu?

Aku mendengar, membaca dan belajar dari kehidupan. Segala kenyataan yang ada membuat hatiku terpanggil seketika, memperbaiki masyarakat. Memperbaiki pandangan mereka bahwa sebenarnya masih ada kami disini yang bukan hanya mencari gaji untuk makan, tapi kami siap memberikan hati, hati yang tulus untuk melayani. Merubah pandangan siswa-siwa yang berpikir bahwa “menjadi dokter dan mendapat gaji yang besar”, tapi menjadi dokter dengan hati, bukan karena uang dan materi, bukan karena prospek kerja yang menjanjikan, tapi menjadi manusia yang teguh menjadi pelayan masyarakat dan membantu mengulurkan tangan tuhan dengan ilmu yang didapatkan. Tuhan menitipkan ilmu untuk kita bagi bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Membangun dunia lebih baik, menjadikan semua orang sadar bahwa sehat adalah hak setiap orang.

Semoga mimpiku menjadi dokter terwujud dan tidak lupa, aku hidup di dunia karena Tuhan. Amin

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda