Sejak kecil kita pasti dijejali dengan dengan kata-kata . . .
“ Jika kau tak ingin dicubit, jangan mencoba untuk mencubit orang lain. Jadilah orang yang baik karena orang yang baik akan menang, seperti Cinderrela, kebaikan akan menang pada akhirnya. Tuhan selalu bersama dengan orang baik, Tuhan tidak meninggalkan mereka, Tuhan memegang tangan mereka. You’ll never walk alone “
Tetapi ternyata pada kenyataannya kita sekarang hidup di dunia yang
sekarang tidak sebaik dan seindah di zaman Nabi yang menjadikan cerita
Cinderrela menjadi mungkin. Meskipun tidak bisa dikatakan jika orang baik sudah
sepenuhnya lenyap dari bumi. Orang baik, orang jujur, dan orang yang peduli
masih banyak di dunia ini. Tapi, pada kenyataannya orang tuli dan buta lah yang
menguasai kita. Mereka hanya melihat sesuatu degan pertanyaan, “Seberapa banyak
yang bisa di hasilkan dari ini?”. Miris, tentu semua orang tahu dan sadar tapi
mereka tidak bisa melakukan banyak hal karena dunia sudah menjelang kiamat.
Pada akhirnya uang yang menyelamatkan segala. Sebenarnya itu juga bukan
salah Tuhan karena semua orang tahu, Tuhan itu maha pemurah dia memberi rezeki
dan dunia kepada suapapun tak pandang apapun, orang yang tak pernah percaya apa
itu Tuhan pun ternyata dianugrahi kecerdasan yang bisa mengalahkan orang yang
mengenal Tuhan sejak dia lahir dan bertaubat di jalan-Nya.
Tentu saja setiap tulisan muncul dari sebuah pengalaman. Entah pahit, manis
atau asam, semuanya bisa mengajari kita sesuatu.
Orang baik selalu menang. Tapi ternyata saya belum menjadi orang baik.
Tuhan selalu bersama orang baik. Tapi ternyata meskipun saya belum menjadi
orang baik. Tuhan selalu bersama dalam hati saya. Dia menuntun saya dengan
cara-Nya sendiri, menyadarkan saya akan sesuatu dan yang kecil pun tak pernah
luput juga. Sayapun tak mencubit seseorang. Saya ingin menjadi seorang dokter,
tapi saya tidak menjadikan diri saya seorang dokter dengan memesannya kepada
seseorang atau meminta sebuah kursi pada seseorang. Atau mungkin akan lebih
mudah jika membayar untu sebuah kursi dan name
tag di sebuah jas putih. Dan sekarang saya tidak menjadi seorang dokter.
Saya hanya “membayar” Tuhan dengan hanya belajar, belajar, dan belajar.
Apa dengan tidak mebayar untuk mendapatkan sebuah kursi saya bisa dikatakan
sebagai orang baik? Ternyata tidak. Karena tenyata saya baru menyadarinya
sekarang ternyata impian saya masih kurang tinggi. Semakin saya bermimpi tinggi
semakin dalam saya jatuh semakin banyak saya belajar. Saya baru bisa mengerti
Tuhan, padahal kenyataannya Tuhan bahkan lebih dekat dari pada pembuluh
darahmu.
Dan apa dengan saya berusaha mengerti Tuhan, diri-Nya memberikan yang saya
inginkan? Bisa kujawab dengan lantang bahwa Tuhan tidak memberi apa yang saya
inginkan. Kenapa? Karena Tuhan memberi saya apa yang saya butuhkan.
Setiap orang yang ingin menjadi dokter dan tidak hidup di zaman Nabi pasti
merasakan hal yang sama (Kecuali untuk orang yang pintar, karena kenyataannya
saya tidak pernah mendapat juara di kelas apapun itu, saya bukan murid yang hyperactive untuk selalu melontarkan
pertanyaan pada guru atau dosen untuk mengetahui sesuatu yang sudah dijelaskan
dengan jelas sebelumnya, atau hanya untuk dilihat bahwa anda pintar dan sering
bertanya, atau bisa jadi hanyak untuk mendapatkan nilai, saya hanya belajar
keras karena saya sadar karena saya bukan keturunan Israel atau memiliki darah
China yang sangat tekun, dan saya bertanya seperlunya apa yang saya tidak
megerti karena kita bisa mempelajari sesuatu dari banyak buku). Kau bisa
menjadi dokter dengan hanya 3 jalan. Pertama kau kaya, kau pintar, atau kau
beruntung. Dan saat saya berusaha keras dan saya tidak mendapatkannya. Apa yang
saya lakukan? Setiap orang pasti melewati 5 tahap kesedihan (The Five Stages of
Grief) msampai sebuah pengakuan seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Elisabeth
Kübler-Ross. Tahap pertama, apa saya tidak terims? Ya tentu saya tidak bisa
menerimanya kenapa saya tidak kaya, tidak cerdas dan tidak beruntung. Orang
lain bisa mendapatkannya karena dia punya uang yang bisa membantunya. Orang
lain memiliki kecerdasan dan bisa membawanya, meskipun ini tidak hanya terjadi
pada saya. Tahap kedua, apa saya marah? Yah tentu karena saya terus berbicara
pada diri saya sendiri bahwa saya seorang dokter dan saya merasa sendirian.
Tahap ketiga, apa saya masih tetap berharap? Yah, saya berharap warna merah dan
tulisan “maaf” itu salah, terus memohon-mohon aka nada sebuah keajaiban besar.
Tahap keempat dan yang terpanjang, apa saya depresi? Sudah sangat tentu, sangat
depresi dan saya mulai kembali ke kenyataan saya sekarang bahwa saya tidak
mendapatkannya. Dan tahap terakhir apa yang saya akui? Ternyata sekarang saya
mengerti, Tuhan memberikan sesuatu yang
lain agar suatu saat saya bisa menemukan yang lain. Belajar hidup dengan
keadaan yang sekarang.
Dunia yang sebenarnya lebih kejam dari pada apa yang dibayangkan. Karena
setiap kesulitan menjadi sebuah kebaikan bagi orang yang mengerti. Dunia kejam
karena siapapun yang memiliki uang bisa mendapatkan lebih dari apa yang
biasanya orang lain dapatkan. Siapapun yang duduk di singgasana dan berdasi
bisa membantu mereka untuk mendapat apa yang mereka mau. Dan apa kita harus
berusaha terus untuk mencapai posisi dan cita-cita yang kita inginkan dan
mendapatkan uang banyak sehingga setiap orang nantinya akan bertepuk tangan
untuk kita? Kukatakan dengan tegas TIDAK.
Memang benar kejar cita-citamu sampai berdarah darah dan kadang sampai kau
berasa hanya ingin mati saja, tapi meskipun kau ingin mati, tetaplah hidup
teruslah berjalan dan berbahagialah apapun yang terjadi. Sukses bukan hanya
menjadi seorang pahlawan yang melintas dijalan dengan diiringin tepuk tangan
banyak orang. Tapi menjadi orang yang bertepuk tangan di belakang layar kata
“terima kasih” dari seorang pahlawan juga merupakan kesuksesan. Kau tidak harus
terkenal. Kau hanya perlu hidup dihati banyak orang dan membuat orang mengenang
senyummu.
Uang memang akan membantu kita untuk mendapatkan hidup di dunia. Tapi
setiap orang perlu menginat sesuatu, bahwa orang baik pasti menang meskipun ini
bukan zaman Nabi. Karena meskipun mereka tidak menang, mereka akan menang di
hati mereka sendiri. Mereka akan menemukan uang bukan ukuran seberapa bisa kau
hidup di dunia yang kejam ini (meskipun kenyataanya uang adalah senjata ampuh),
tapi kau akan menemukah bahwa ternyata berusaha dan terus berusaha menjadi orang
baik meskipun hal itu tidak akan bisa menghindarkan kita dari cubitan orang
lain tapi setidaknya Tuhan bersamamu. Karena jika kau meminta kepada orang
berdasi dia tak akan mendengarkan, tapi jika kau meminta pada yang menguasai
seisi alam raya Dia akan selalu mendengarkanmu. Dia lebih besar kuasanya,
jadilah yang Dia mau dan hiduplah.
Carilah sendiri, kau akan lebih tahu jawabannya. . . .
Label: cita-cita, kisah hidup, life, story
Aku Ingin Menjadi Tanganmu, Tuhan (Antara Harapan dan Kenyataan)
0 komentar Ditulis oleh Unknown at 5/02/2015 11:54:00 AM
Waktu-waktu
mendekati kelulusan seperti ini terasa sangat luar biasa bagi kita semua, siswa
kelas XII di jenjang akhir sekolah tinggi. Dititik ini kita semua pasti
berpikir “apa selanjutnya? Aku jadi
apa?”. Yah memang bingung, aku merasakannya juga. Disaat seperti itu kita
benar-benar dituntut, mungkin bukan dituntut saja tapi diburu waktu juga, untuk
berpikir keras apa kita selanjutnya. Tapi tentu saja guru dan orangtua selalu
mengingatkan, “yang kalian pilih harus semuai minat dan kemampuan, jangan
memilih karena orangtua, kan bukan
orangtua yang sekolah”. Ada juga temanku dihari pendaftaran SNMPTN dimulai dia
masih berkata, “jurusan apa ya? Bingung”. Ada juga teman yang berkata,
“Kedokteran aku, disuruh mamaku”, atau “Aku STAN, biar gampang kerjanya nggak ribet”. Banyak jawaban, banyak
cerita. Tapi ada yang sudah menjawab dengan mantap, “aku bioteknologi UB”.
Sepertiku, dengan mantap aku menjawab, “kedokteran”. Mungkin itu mimpi yang
biasa saja untuk semua orang, mengapa? Karena semua orang berpikir, dokter itu
keren, dokter itu gajinya banyak, dokter itu sekolahnya banyak, dokter itu
sekolahnya mahal, dokter itu hanya orang kaya yang bisa sekolah, makanya banyak yang mau.
Kenyataannya?
Mungkin memang benar, dokter sekolahnya lama, dokter sekolahnya mahal, dokter
gajinya banyak. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Siapa yang
tidak tahu? Tapi untuk pernyataan bahwa dokter itu hanya orang kaya yang bisa
sekolah, saya rasa tidak. Banyak orang tidak terlalu mampu di luar sana yang
bisa jika anda tahu. Dan hampir seluruh orang akan mengambil jurusan ini karena
mereka berpikir gajinya yang besar dan prospek kerjanya yang menjanjikan.
Terutama untuk anak yang orangtuanya sudah terjun dibidang kesehatan, seperti
aku pribadi. Karena memang, dalam kenyataannya orang-orang mencari jurusan
kuliah karena prospek kerja yang dimiliki, hal itu sudah tidak terelakkan.
Seperti halnya jika ada seorang anak yang berkata, “Aku mau ambil jurusan
astronomi”, pasti banyak yang bertanya, “seperti apa sekolahnya? Mahal tidak?
Kerjanya jadi apa? Gajinya kira-kira berapa? Bisa menjamin hidupmu tidak?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengelilingi kehidupan kita. Memang tidak bisa
dipungkiri di dunia kita membutuhkan uang, Itu pasti. Tapi hal-hal di
masyarakat itu membuat saya bertanya. Kenapa orang berpikir seperti itu ? Gaji
besar ? Kerja Bagus ?
Dulu saat aku
kecil, aku menolak mentah-mentah. Aku benar-benar tidak ingin berkutat di dunia
kesehatan. Aku suka musik dan gambar. Aku tidak suka hal seperti itu, sangat
tidak suka. Perlahan demi perlahan aku tumbuh. Saat SMP, sekolahku lumayan jauh
dari rumah (±3km dari rumah), jadi aku harus naik kendaraan umum (angkot biasa
aku menyebutnya) setiap sekolah, selama 3 tahun. Aku mendengar dan menemukan
berbagai macam hal baru. Berinteraksi dengan masyarakat, karena kita tahu
sendiri kendaraan umum adalah kendaraan semua kalangan. Tapi setelah memasuki
SMA, saya mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi, karena jarak yang
ditempuh lebih jauh dari sebelumnya (±10km dari rumah), memang kabutapen saya
tidak terlalu banyak memiliki sekolah tinggi negeri, karena hal itu persaingan
yang terjadi sangatlah ketat. Perbedaan nilai sebesar 0,1 saja sudah sangat
sulit. Jadi tidak begitu banyak yang beruntung bisa bersekolah di sekolah
negeri. Tapi setelah mengalami kecelakaan hebat saat aku masih duduk dikelas
10, aku harus menjadi pengguna angkutan umum lagi sementara waktu. Aku belajar
sangat banyak dari pengalaman menjadi pengguna angkutan umum.
Saat kita di
masyarakat, kita akan sering mendengan hal yang sering mereka keluhkan.
Kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan, mereka selalu mengeluhkan hal yang
sama. Aku hidup di keluarga yang terjun di bidang kesehatan, dan itu membuatku
sama sekali tidak mengerti seperti apa sulitnya masyarakat umum menghadapi
permasalahan kesehatan. Aku tertegun saat mendengar wanita hampir tua yang
berkata, “halah berobah di dokter ini
aja, murah. Dari pada kerumah sakit,
lama yawes gitu aja”. Ada alasan uang
yang mendasari hal tersebut, ada alasan pelayanan kesehatan yang tidak bagus
yang mendasari alasan tersebut. Dan aku sering mendengar orang-orang berbicara
pengobatan alternatif yang sering diberi embel-embel, “Beberapa kali datang
sembuh total, tanpa operasi, harga terjangkau”, padahal diri kita sendiri tidak
bernar-benar tau metode apa yang mereka gunakan, obat apa yang mereka gunakan,
aman atau tidak. Mereka memikirkan biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka
selalu berlari ke pengobatan alternatif yang kita tidak tau seperti apa
pengobatannya saat masyarakat sudah kehabisan akal untuk memenuhi biaya
perawatan kesehatan medis. Diperparah dengan adanya kasus malpraktek yang kita
tahu terjadi di masyarakat, Kesalahan prosedur pengobatan yang menyebabkan
kematian, semakin mengikis kepercayaan masyarakat bahwa medis itu aman. Banyak
sekali orang-orang yang harus mati sia-sia hanya karena biaya pengobatan yang
mengganjal mereka atau sudah putus asanya mereka karena pengobatan alternatif
manapun tidak bisa menyembuhkannya. Banyak sekali hal tersebut dan sudah
menjadi darah daging di kehidupan masyarakat. Alam indah di daerah Indonesia
timur pun menutupi kenyataan pahit, bahwa banyak dari mereka yang tidak
mengerti apa itu sehat. Hidup dalam kerkurangan dan daerah yang terisolasi
mempersempit kesempatan mereka untuk hidup sehat dan sejahterah. Hal itu
membuatku berpikir, inikah? Banyak siswa yang mengejar sebuah pekerjaan dengan
gaji besar seperti dokter. Padahal kenyataannya diluar sana banyak sekali
masyarakat yang tidak hanya membutuhkan ilmu dan pelayanan mereka, tapi juga
hati mereka. Hati yang bisa membantu mereka tenang, hati yang bisa memberi
semangat, hati yang bisa membantu meraka sembuh, hati yang bisa membimbing
mereka untuk percaya.
Saat aku beranjak dewasa, aku
mulai mengerti Tuhan, memahami-Nya, bersyukur kepada-Nya. Menyadari bahwa
ciptaan-Nya begitu luar biasa. Dia menciptakan setiap jengkal tubuh kita begitu
detail dan luar biasa. Membuatnya bekerja dengan sempurna dan bahkan bisa
menyembuhkan dirinya sendiri. Maha besar Tuhan Yang Maha Esa. Membuatku selalu
terkagum-kagum, bagaimana bisa seperti ini? Begitu indahnya manusia. Terutama
saat mengetahui kisah para ilmuwan yang memeluk islam karena riset mereka
sendiri. Salah satu contohnya adalah Profesor William, seorang ilmuwan yang
menemukan bahwa tumbuhan itu selalu bertasbih kepada Tuhan dan membuatnya
memeluk islam. Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular
Biologies, mengungkapkan hasil penelitian tim Profesor William tentang suara
yang keluar dari tumbuhan tetapi tidak bisa didengar telinga biasa
(ultrasonik). Suara itu direkam, gelombang suara tersebut lalu ditranslate
menjadi gelombang elektrik optic yang dapat ditampilkan ke layar monitor.
Beliau sudah mengajukan hasil penelitian ini kemanapun, ke ilmuwan Amerika
maupun Eropa, tapi tidak ada yang bisa menjelaskan fenomena tersebut. Sampai
akhirnya hasil penelitian ini sampai di tangan para peneliti Britania yang
salah satu ilmuannya adalah seorang muslim India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata
ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari
fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”. Maka para ilmuwan yang
hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk
menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu. Sang ilmuwan muslim
menyampaikan firmanTuhan dalam Al-Quran:
“…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)
Keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di
mana ilmuwan muslim tersebut berbicara. Akhirnya orang yang bertanggung jawab
terhadap penelitian ini, yaitu profesor William menemui ilmuwan muslim itu untuk
mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh Rasulullah yang tidak bisa baca
tulis 1.400 tahun lalu sebelum fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun
menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an
dan terjemahnya kepada Profesor William. Selang beberapa hari setelah itu,
profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia
mengatakan:
“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadat: Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”
Seorang Professor telah mengumumkan Islamnya di hadapan para
hadirin, karena Tuhan yang Maha mengetahui, membuatnya terperangah atas
kenyataan ilmiah yang diberikan-Nya sebelum ada satupun orang yang
mengetahuinya. Nikmat Tuhan manakah yang tidak membuatmu terpanggil? Fakta
ilmiah manakah yang tidak membuatmu tercengang tentang Tuhanmu?
Aku mendengar, membaca dan belajar
dari kehidupan. Segala kenyataan yang ada membuat hatiku terpanggil seketika,
memperbaiki masyarakat. Memperbaiki pandangan mereka bahwa sebenarnya masih ada
kami disini yang bukan hanya mencari gaji untuk makan, tapi kami siap
memberikan hati, hati yang tulus untuk melayani. Merubah pandangan siswa-siwa
yang berpikir bahwa “menjadi dokter dan mendapat gaji yang besar”, tapi menjadi
dokter dengan hati, bukan karena uang dan materi, bukan karena prospek kerja
yang menjanjikan, tapi menjadi manusia yang teguh menjadi pelayan masyarakat
dan membantu mengulurkan tangan tuhan dengan ilmu yang didapatkan. Tuhan
menitipkan ilmu untuk kita bagi bersama orang-orang yang ada di sekitar kita.
Membangun dunia lebih baik, menjadikan semua orang sadar bahwa sehat adalah hak
setiap orang.
Semoga mimpiku menjadi dokter
terwujud dan tidak lupa, aku hidup di dunia karena Tuhan. Amin
Label: cita-cita, kisah hidup, life, story
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan:
Postingan (Atom)
