Blogger Template by Blogcrowds.

Sejak kecil kita pasti dijejali dengan dengan kata-kata . . .

“ Jika kau tak ingin dicubit, jangan mencoba untuk mencubit orang lain. Jadilah orang yang baik karena orang yang baik akan menang, seperti Cinderrela, kebaikan akan menang pada akhirnya. Tuhan selalu bersama dengan orang baik, Tuhan tidak meninggalkan mereka, Tuhan memegang tangan mereka. You’ll never walk alone “

Tetapi ternyata pada kenyataannya kita sekarang hidup di dunia yang sekarang tidak sebaik dan seindah di zaman Nabi yang menjadikan cerita Cinderrela menjadi mungkin. Meskipun tidak bisa dikatakan jika orang baik sudah sepenuhnya lenyap dari bumi. Orang baik, orang jujur, dan orang yang peduli masih banyak di dunia ini. Tapi, pada kenyataannya orang tuli dan buta lah yang menguasai kita. Mereka hanya melihat sesuatu degan pertanyaan, “Seberapa banyak yang bisa di hasilkan dari ini?”. Miris, tentu semua orang tahu dan sadar tapi mereka tidak bisa melakukan banyak hal karena dunia sudah menjelang kiamat.

Pada akhirnya uang yang menyelamatkan segala. Sebenarnya itu juga bukan salah Tuhan karena semua orang tahu, Tuhan itu maha pemurah dia memberi rezeki dan dunia kepada suapapun tak pandang apapun, orang yang tak pernah percaya apa itu Tuhan pun ternyata dianugrahi kecerdasan yang bisa mengalahkan orang yang mengenal Tuhan sejak dia lahir dan bertaubat di jalan-Nya.

Tentu saja setiap tulisan muncul dari sebuah pengalaman. Entah pahit, manis atau asam, semuanya bisa mengajari kita sesuatu.

Orang baik selalu menang. Tapi ternyata saya belum menjadi orang baik. Tuhan selalu bersama orang baik. Tapi ternyata meskipun saya belum menjadi orang baik. Tuhan selalu bersama dalam hati saya. Dia menuntun saya dengan cara-Nya sendiri, menyadarkan saya akan sesuatu dan yang kecil pun tak pernah luput juga. Sayapun tak mencubit seseorang. Saya ingin menjadi seorang dokter, tapi saya tidak menjadikan diri saya seorang dokter dengan memesannya kepada seseorang atau meminta sebuah kursi pada seseorang. Atau mungkin akan lebih mudah jika membayar untu sebuah kursi dan name tag di sebuah jas putih. Dan sekarang saya tidak menjadi seorang dokter. Saya hanya “membayar” Tuhan dengan hanya belajar, belajar, dan belajar.

Apa dengan tidak mebayar untuk mendapatkan sebuah kursi saya bisa dikatakan sebagai orang baik? Ternyata tidak. Karena tenyata saya baru menyadarinya sekarang ternyata impian saya masih kurang tinggi. Semakin saya bermimpi tinggi semakin dalam saya jatuh semakin banyak saya belajar. Saya baru bisa mengerti Tuhan, padahal kenyataannya Tuhan bahkan lebih dekat dari pada pembuluh darahmu.

Dan apa dengan saya berusaha mengerti Tuhan, diri-Nya memberikan yang saya inginkan? Bisa kujawab dengan lantang bahwa Tuhan tidak memberi apa yang saya inginkan. Kenapa? Karena Tuhan memberi saya apa yang saya butuhkan.

Setiap orang yang ingin menjadi dokter dan tidak hidup di zaman Nabi pasti merasakan hal yang sama (Kecuali untuk orang yang pintar, karena kenyataannya saya tidak pernah mendapat juara di kelas apapun itu, saya bukan murid yang hyperactive untuk selalu melontarkan pertanyaan pada guru atau dosen untuk mengetahui sesuatu yang sudah dijelaskan dengan jelas sebelumnya, atau hanya untuk dilihat bahwa anda pintar dan sering bertanya, atau bisa jadi hanyak untuk mendapatkan nilai, saya hanya belajar keras karena saya sadar karena saya bukan keturunan Israel atau memiliki darah China yang sangat tekun, dan saya bertanya seperlunya apa yang saya tidak megerti karena kita bisa mempelajari sesuatu dari banyak buku). Kau bisa menjadi dokter dengan hanya 3 jalan. Pertama kau kaya, kau pintar, atau kau beruntung. Dan saat saya berusaha keras dan saya tidak mendapatkannya. Apa yang saya lakukan? Setiap orang pasti melewati 5 tahap kesedihan (The Five Stages of Grief) msampai sebuah pengakuan seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Elisabeth Kübler-Ross. Tahap pertama, apa saya tidak terims? Ya tentu saya tidak bisa menerimanya kenapa saya tidak kaya, tidak cerdas dan tidak beruntung. Orang lain bisa mendapatkannya karena dia punya uang yang bisa membantunya. Orang lain memiliki kecerdasan dan bisa membawanya, meskipun ini tidak hanya terjadi pada saya. Tahap kedua, apa saya marah? Yah tentu karena saya terus berbicara pada diri saya sendiri bahwa saya seorang dokter dan saya merasa sendirian. Tahap ketiga, apa saya masih tetap berharap? Yah, saya berharap warna merah dan tulisan “maaf” itu salah, terus memohon-mohon aka nada sebuah keajaiban besar. Tahap keempat dan yang terpanjang, apa saya depresi? Sudah sangat tentu, sangat depresi dan saya mulai kembali ke kenyataan saya sekarang bahwa saya tidak mendapatkannya. Dan tahap terakhir apa yang saya akui? Ternyata sekarang saya mengerti, Tuhan memberikan sesuatu  yang lain agar suatu saat saya bisa menemukan yang lain. Belajar hidup dengan keadaan yang sekarang.

Dunia yang sebenarnya lebih kejam dari pada apa yang dibayangkan. Karena setiap kesulitan menjadi sebuah kebaikan bagi orang yang mengerti. Dunia kejam karena siapapun yang memiliki uang bisa mendapatkan lebih dari apa yang biasanya orang lain dapatkan. Siapapun yang duduk di singgasana dan berdasi bisa membantu mereka untuk mendapat apa yang mereka mau. Dan apa kita harus berusaha terus untuk mencapai posisi dan cita-cita yang kita inginkan dan mendapatkan uang banyak sehingga setiap orang nantinya akan bertepuk tangan untuk kita? Kukatakan dengan tegas TIDAK.

Memang benar kejar cita-citamu sampai berdarah darah dan kadang sampai kau berasa hanya ingin mati saja, tapi meskipun kau ingin mati, tetaplah hidup teruslah berjalan dan berbahagialah apapun yang terjadi. Sukses bukan hanya menjadi seorang pahlawan yang melintas dijalan dengan diiringin tepuk tangan banyak orang. Tapi menjadi orang yang bertepuk tangan di belakang layar kata “terima kasih” dari seorang pahlawan juga merupakan kesuksesan. Kau tidak harus terkenal. Kau hanya perlu hidup dihati banyak orang dan membuat orang mengenang senyummu.

Uang memang akan membantu kita untuk mendapatkan hidup di dunia. Tapi setiap orang perlu menginat sesuatu, bahwa orang baik pasti menang meskipun ini bukan zaman Nabi. Karena meskipun mereka tidak menang, mereka akan menang di hati mereka sendiri. Mereka akan menemukan uang bukan ukuran seberapa bisa kau hidup di dunia yang kejam ini (meskipun kenyataanya uang adalah senjata ampuh), tapi kau akan menemukah bahwa ternyata berusaha dan terus berusaha menjadi orang baik meskipun hal itu tidak akan bisa menghindarkan kita dari cubitan orang lain tapi setidaknya Tuhan bersamamu. Karena jika kau meminta kepada orang berdasi dia tak akan mendengarkan, tapi jika kau meminta pada yang menguasai seisi alam raya Dia akan selalu mendengarkanmu. Dia lebih besar kuasanya, jadilah yang Dia mau dan hiduplah.


Carilah sendiri, kau akan lebih tahu jawabannya. . . . 

0 Comments:

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda