Blogger Template by Blogcrowds.

        Saat aku mulai melalui masa-masa yang sangat sulit. Aku merasa diri ini sudah mulai menemukan cahaya, kemana jalan menuju langit yang sebenarnya. Sebuah titik dimana kami manusia melampaui mimpinya sendiri dengan mata terbuka. Tetapi ternyata..... sepertinya semua itu hanya ilusi. Seperti umpan pemancing untuk mencari ikannya. Saat Tuhan membalikkan hati kita dan kita terbangun olehnya, Dirinya akan memancing kita lebih jauh, lebih dalam, melayang kesuatu tempat yang lebih tinggi. Menempa setiap hati dan tubuh untuk terus menemukan titik tertinggi.
 
        Awalnya aku bingung, “apa ini?”. Mulai menyadari ternyata selama ini aku masih bermimpi dengan mata tertutup. Menyadari ternyata diri ini masih berjalan pada dimensi ruang dan waktu yang sama. Sama sekali tidak ada yang berubah hanya nyaris berada di garis impian. Tetapi terus saja hanya hampir.... hampir.... hampir.... dan hampir. Sama sekali belum melewati batas. Tak seperti energi yang kekal, ia selalu berubah bentuk. Tetapi ternyata diri ini sama sekali tak bepindah dimensi dan masih menempati potongan-potongan tangga mimpi lalu yang sudah disamarkan dengan mimpi baru yang ternyata belum terlihat jelas dan dapat membangun tangga-tangga baru  menuju titik tertinggi. Terdakang terasa masih kabur bahkan hilang karena perasaan lelah, kehabisan tenaga karena berjalan pada dimensi satu.

        Tuhan seperti membangunkanku lagi... lagi... dan lagi... dari mimpi di dalam mimpi yang didalamnya aku bermimpi sedang bermimpi. Seperti mulai menjadi sesat kembali setelah dibenarkan jalannya. Seperti kembali keluar jalur dari jejak yang seharusnya diikuti. Tetapi seperti dibuktikan, Tuhan tidak pernah benar-benar melepaskan genggamannya terkadap kami. Firasat-firasat yang mulai menyadarkan, “ah... tenyata... kenapa bisa begini?”. Semua orang tahu jika manusia hanya berpegang pada tiang-tiang yang fana, kami semua akan mudah tersesat dalam gelap atau akan sedikit terseret jika arus datang. Tetapi jika kami berpegang pada sesuatu yang lebih tinggi, akan ada jam-jam yang terus berdentang dan tali-tali yang menyeret mata, telinga, tangan, dan kakimu dengan paksa untuk kembali tersadar. Bahwa semestinya jalan-jalan yang sudah diterangi, jika kau terus menapaki jejak yang sama suatu saat makhluk akan merasakan kantuk dan mulai keluar dari jalur. Tetapi jika ada yang menyeretmu kembali dengan paksa dan membuatmu terbangun, makhluk itu akan kembali menapaki jalan-jalan yang benar.

        Ada hal yang perlu ditanam dalam pikiran setiap makhluk sebelum mulai melangkah lebih jauh. Berjalanlah untuk mencapai mimpimu yang diluar nalar dengan mata terbuka, karena mimpi hanya bisa terwujud jika kau membangunkan tubuhmu dengan paksa.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda