Kulihat
awan kelabu di ufuk barat
Ombak
tenang mulai berubah
Perlahan
tapi pasti
Badai
mulai mendekat
Badai
terus dan terus menerjang
Bahtera
itu terkoyak
Tiang
layarnya mulai rapuh
Dan
nahkoda mulai kehilangan arah
Petir
bergemuruh
Ombak
menerjang tanpa henti
Saat
layar hampir tak mampu lagi mengembang
Secercah
cahaya terang dari ujung cakrawala menembus gelap
Nahkoda
mulai tersenyum cerah
Obsesi
mengekang bahtera rapuh itu
Dia
bahkan tak peduli telah terkoyak badai
Dan terus
melebarkan layar yang telah rapuh
Bahtera
itu menerjang ombak dengan sisa layarnya yang masih utuh
Memandangi
cahaya terang yang memberi petunjuk
Kemana
nahkoda akan memimpin bahtera
Melabuhkan
bahteranya yang terlah rapuh
Saat
bahtera itu sudah terpeluk oleh obsesi
Saat
bahtera itu sudah melewati badai di tengah laut
Cahaya di
ujung cakrawala itu seketika hilang
Tapi
kegelapan tak membuat bahtera itu karam
Bahtera
itu terus menghadang ombak
Mencari
cahaya dan berharap bisa berlabuh
Tapi
cahaya itu tak pernah lagi ada
Tak
pernah lagi menyinari bahtera rapuh itu
Hiang
seketika
Dan
bahtera itu karam, habis tanpa pelabuhan
Seperti
hati...
Yang
selalu berangan dan tak pernah memiliki
Label: kisah hidup, life, puisi
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
