Ada orang yang percaya, bahwa hewanpun punya perasaan. Tapi juga ada orang yang tega dengan hewan dan berpikir bahwa itu hanya hewan. Tapi hewan juga memiliki perasaan. Aku punya kisah. Dan masih terjadi sampai sekarang. 2 bulan terakhir di bulan 2011, adikku meminta seekor kucing kecil ke tetanggaku. Saat aku pulang sekolah dan kubuka pintu belakang. “kucing kecil siapa ini ? mengapa dia di rumahku ?” pikirku. Kukira dia membenciku dan mengjarku kemanapun aku berpitar, dia juga mengeong kesana kemari. Aku sempat takut, kukira dia ganas. Kutanyakan ibuku kucing siapa itu. Ibu bilang, itu kucing adikku.
Hariku dimulai sebagai seorang majikan hari itu. Sudah sejak lama aku menginginkan kucing. Tapi baru sekarang aku memilikinya. “ya tuhan terima kasih” pikirku. Lama kelamaan aku terbiasa dengan kehadirannya. Kau tau, matanya begitu lucu, ekornya juga. Aku sangat menyayanginya lebih dari apapun. Dulu akupun pernah memelihara 2 ekor kelinci. Kelinciku sangat gendut dan lucu. Tapi, kelinciku berakhir tragis. Orang tuaku berencana menjualnya. Oh… ya tuhan… ak menyayanginya. Tapi, aku tak berdaya mencegah orang tuaku. Dan saat kudapatkan kucing itu, aku sangat senang. Dia sangat dekat denganku. Dia sangat suka tidur di kasurku. Dan aku yang selalu memberinya makan, mengajaknya bermain dan semuanya sangat menyenangkan. Ada suatu hari di mana kucingku itu menghilang saat pagi menjelang. Aku sangat bingung dan di sejolahpun aku tak dapat berhenti memikirkannya. Aku takut dia tak akan pulang lagi dan tersesat. Tapi syukurlah saat aku pulang sekolah, aku sudah melihatnya kembali di rumah. Ibuku bilang dia pulang kerumah sekitar jam 11 siang itu. Saat dia datang dia kelihatan sangat lapar dan ibuku segera memberinya makan. Aku sangat bersyukur. Tapi, hari-hari menyangkan itu tak berjalan lama.
Malam itu, saat ayahku pulang dari tempat kerjanya. Dan dia mengajak 2 orang temannya. Selain itu, dia membawa seekor kucing kecil persilangan Persia dan angora. Aku yang belum terlelap tidur keluar dari kamarku. Kulihan kucing kecil lucu itu. Bulunya banyak berbeda dengan kucingku yang selama ini kupelihara. Meskipun selama ini aku hanya memelihara kucing kampung, tapi dia bukan kucing kampung biasa. Dia sangat menyenangkan, lucu, dengan matanya yang lugu dan lembut. Lalu ibuku berinisiatif mempertemukan kedua kucing itu. Tapi, kulihan kucing lamaku terlihat tidak suka dan ketakutan. Dia berusaha menjauh. Dan keesokan harinya berlanjut. Dan setiap hari kedua kucingku itu saling bertengkar. Orang tuaku tak suka melihatnya. Dan ibuku memberikan kucing lamaku itu pada tetanggaku. Ya tuhan.. aku tak rela. Aku mencintainya lebih dari apapun juga. Mengapa setiap aku memiliki peliharaan berakhir seperti ini. Tapi, aku sama sekali tak berdaya melakukan apa-apa. Dengan berat hati kulepas kucingku itu menjadi milik orang lain. Keesokan harinya kulihat dia di depan pintu rumahku. Dia mengeong dengan keras tak berhenti. Kutengok dari candela rumahku. Kulihat matanya, ya tuhan.. aku tidak tega. Dia seperti berbicara padaku “aku menyayangimu, aku tak ingin meninggalkan rumah ini.” Kubukakan pintu untuknya dan berulang beberapa hari kemudia. Tapi, ibuku merasa jengkel dengan kehadirannya. Karena dia selalu bertengkar dengan kucing baruku itu. Jadi setelah itu setiap dia datang bermain ke rumahku seorangpun tak diperbolehkan membukakan pintu untuknya. Aku serasa ingi sekali menangis melihat dalamdalam kemata kucing itu. Dia seperti menjerit meminta tolong untuk di bukakan pintu. Tapi tak ada yang mengijinkanku. Setiap dia berhasil masuk kerumahku ibuku selalu membuangnya lagi keluar. Ya tuhan… maafkan aku. Aku berdosa tak bisa menolongnya. Dan aku lebih mencintainya lagi saat aku pergi ke Bali mengikuti acara Study Tour dari sekolahku. Tiga hari kutinggalkan dia, dia menantiku di rumah dan tak mau makan karena tak melihatku di rumahku. Diapun hanya bisa tidur karena lemas tak berdaya. Saat aku pulang, rasanya ingin aku menangis di hadapannya dan berteriak. Terima kasih mau menantiku pulang, kau hewan pertama yang menantiku pulang kerumah. Tapi, setelah itu ibuku semakin sering melarangnya datang kerumah dan tak membukakan puntu untuknya. Mungkin dia sakit hati selalu diperlakukan seperti itu. Hari-hari selanjutnya dia jarang datang kerumahku lagi. Jika dia datangpun kuelus kepalanya dia menghindar. Ya tuhan… aku berslah. Dan sampai hari ini dia tak datang kerumahku dan aku tak melihatnya bermain di samping rumahku seperti biasanya.
Dan aku ingat sebuah film berjudul BOLT. Anjing itu sempat sakit hati. Dia piker majikannya tak menyayanginya lagi saat dia melihat majikannya bersama anjing lain. Mungkin pikiran itu juga muncul di pikiran kucing kecilku itu. Meskipun dia hanya seekor kucing. Dia memiliki perasaan dan kasih sayang sama seperti kita manusia. Karena yang berharga dari seekor peliharaan bukan keindahannya, bukan semahal apa harganya. Tapi, cintanya terhadap kita. Kepercayaannya terhadap kita. Kesetiaannya terhadap kita. Sekalipun kita hanya temukan dia di jalanan dan membawanya pulang. Tapi, jika dia mencintai kita dia tak akan pernah meninggalkanmu sampai dia mati. Jadi, mulai sekarang percayalan bahwa hewan juga memiliki perasaan cinta sama seperti kita. Dan akupun juga tak akan mau melakukannya lagi terhadap hewan lain. Karena aku tak mau dia membenciku lebih dari apapun.
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
